Kritik Pragmatik: Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman el Shirazy

SINOPSIS NOVEL AYAT-AYAT CINTA

Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el Shirazy mengisahkan ten-tang seorang tokoh bernama Fahri yang merupakan pemuda dari Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir. Adapun syarat untuk bisa menjadi pelajar di Universitas Al-Azhar adalah harus dapat menghapal Al-Quran. Fahri yang merupakan pribadi  yang sangat menjunjung nilai-nilai keimanan dalam aga-ma Islam tentu saja hapal Al-Quran. Nilai-nilai keimanan itulah yang dia praktik-kan dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun ia tinggal di sebuah rumah susun tanpa sanak keluarga dari In-donesia, namun dia beruntung karena mengenal keluarga yang begitu baik pada-nya, keluarga Maria. Maria adalah putri sulung Tuan Boutros Rafael Girgis. Bera-sal dari keluarga Kristen Koptik yang sangat taat. Meskipun seorang gadis dari penganut Kristen, Maria mampu menghafal Quran surat Maryam dan Al-Maidah.
Pertemuan Fahri dengan Maria berawal ketika Fahri pindah ke sebuah ru-mah lantai satu yang letaknya di bawah rumah Maria. Sejak itu mereka saling me-ngenal walau tidak begitu akrab. Suatu hari, ketika akan melakukan perjalanan menuju Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Kaima ujung Utara kota Cairo, Maria memanggil Fahri dan meminta Fahri untuk bisa menitipkan disket yang ingin ia beli.
Di dalam metro menuju tempat tujuan, Fahri berkenalan dengan seorang pemuda Mesir bernama Ashraf yang juga seorang muslim. Mereka bercerita ba-nyak tentang Islam. Tak lama kemudian, 3 orang bule yang berkewarganegaraan Amerika naik ke dalam metro tersebut. Salah satu dari bule tersebut adalah seo-rang nenek yang kelihatannya sudah sangat lelah, namun mereka tidak dipeduli-kan karena dianggap kurang beradab oleh masyarakat Mesir. Ketiga bule tersebut berpakaian yang tidak sesuai dengan budaya orang Mesir sehingga tidak ada satu-pun di antara penumpang bis yang mau memberikan tempat duduk kepada mere-ka. Namun salah satu penumpang bis, Aisha tergerak hatinya untuk memberikan tempat duduknya kepada nenek yang tampaknya tidak sanggup lagi untuk berdiri. Di sinilah awal terjadinya perdebatan. Orang-orang Mesir kemudian mengeluar-kan kata-kata pedas kepada Aisha karena perbuatan Aisha yang memberikan tem-pat duduk kepada orang Amerika dianggap sebagai suatu kesalahan besar. Fahri kemudian mencoba meredam perdebatan yang seharusnya tidak perlu ada. Walau apa yang dilakukan Fahri sempat menimbulkan perdebatan yang semakin panas, namun Fahri meluluhkan hati mereka dengan mengatakan bahwa Islam itu me-nyayangi sesama.
Sejak kejadian tersebut, Alicia yang seorang gadis nonmuslim itu menjadi ingin bertemu dengan Fahri dan menanyakan tentang hal-hal yang berhubungan dengan Islam. Merekapun melakukan pertemuan dengan didampingi oleh Aisha yang seorang gadis Mesir. Karena keterbatasan waktu, Fahri meminta agar Alicia menuliskan pertanyaannya dan akan dijawab oleh Fahri dengan tulisan juga. Hal itu diterima oleh Alicia mengingat kesibukan Fahri yang tidak memungkinkan un-tuk melakukan pertemuan yang memerlukan waktu yang lama. Fahri menjawab pertanyaan-pertanyaan Alicia dengan tulisan, mencarikan referensi-referensi yang tepat untuk menjawab pertanyaan Alicia tersebut. tidak tanggung-tanggung, Fahri pun juga meminta pertolongan Maria untuk menterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Dan juga meminta gurunya untuk mengoreksi jawaban-jawaban yang te-lah ia tuliskan.
Di Mesir, Fahri tinggal bersama 4 orang temannya yang juga berasal dari Indonesia, yaitu Saiful, Rudi, Hamdi, dan Misbah. Di sana Fahri juga bertetangga dengan Bahadur, seorang yang kasar kepada siapa saja bahkan kepada istrinya Madame Syaima dan putri bungsunya Noura. Bahadur dan Madame Syaima me-miliki 3 orang putri, yaitu Mona, Suzanna, dan Noura. Mona dan Suzanna berkulit hitam sama seperti orangtuanya, namun lain halnya dengan Noura yang berkulit putih dan berambut pirang. Hal ini mengakibatkan Bahadur mengira kalau istrinya telah berselingkuh dan sangat membenci Noura.
Pada suatu malam, Bahadur menyeret Noura ke jalanan dengan punggung yang penuh dengan luka cambukan. Melihat hal tersebut Fahri meminta Maria un-tuk dapat membantu Noura dan membawanya ke rumah untuk menginap di rumah Maria. Keesokkan harinya, Fahri membawa Noura ke rumah Nurul untuk dapat diamankan dari keganasan Bahadur. Fahri dan Maria kemudian berusaha untuk mencari tahu tentang Noura. Akhirnya terungkaplah bahwa Noura bukanlah anak dari Bahadur dan Madame Syaima. Merekapun membantu untuk menemukan ke-dua orang tuanya hingga ia bisa berkumpul dengan keluarganya yang sebenarnya. Bantuan Fahri ternyata membuat Noura jatuh cinta kepadanya. Ia pun mengirim-kan sepucuk surat ungkapan perasaannya kepada Fahri, namun surat itu tidak di-tanggapi oleh Fahri karena mengira itu hanyalah ungkapan terima kasih. Fahri pun kemudian memfokuskan diri kepada ujian yang akan ia hadapi.
Lain lagi dengan Aisha, pertemuan yang beberapa kali membuatnya jatuh cinta dengan sikap dan sifat Fahri. Ia pun meminta pamannya Eqbal untuk dapat menjodohkannya dengan Fahri. Fahri yang memang telah sedang bingung dengan pernikahan yang telah ia targetkan merasa terjawab sudah dengan tawaran Ustadz Usman untuk menjodohkannya dengan gadis soleha. Setelah melakukan shalat is-tighoroh dan meminta restu ibunya, ia pun memantapkan niatnya untuk meminang gadis yang sama sekali belum ia ketahui nama dan wajahnya itu. Namun betapa terkejutnya ia ketika pertemuan keluarga yang datang adalah Eqbal dan keluarga-nya. Segeralah ia mengetahui bahwa gadis itu adalah Aisha yang tak lain adalah keponakan Eqbal. Eqbal dan Fahri telah banyak mengenal satu sama lain. Tentang Fahri yang miskin dan dapat datang ke Mesir dengan menjual sawah warisan ka-keknya. Melalui bantuan Syaikh Usman, Fahri pun bersedia untuk menikah dengan Aisha dan Aisha pun siap menerima Fahri apa adanya.
Hari pernikahan telah ditentukan, Jumat setelah ashar, namun cobaan da-tang pada Fahri. Ustadz Jamal dan istrinya datang menemui Fahri pada siang hari-nya dengan maksud untuk meminangnya untuk Nurul karena Nurul sangat men-cintai Fahri. Mendengar hal tersebut Fahri sangat terpukul karena dulunya setiap mendengar nama Nurul hatinya selalu bergetar. Akan tetapi cintanya sekarang te-lah menjadi milik Aisha dan hanya hitungan jam saja mereka akan menikah. Fahri pun menceritakan perihal pernikahan dengan Aisha yang sebentar lagi akan ter-laksanakan kepada Ustadz Jamal dan istrinya. Ustadz Jamal pun sangat menya-yangkan dan menyesal terhadap sikapnya yang menunda-nunda permintaan Nurul untuk meminang Fahri. Pernikahan Fahri dan Aisha akan segera dilaksanakan dan tidak mungkin untuk dibatalkan. Cobaan itu membuatnya sedih karena harus me-nyakiti hati Nurul. Sebelum adzan ashar berkumandang, Sarah Ali Farougi, mem-beri tahu bahwa semuanya telah siap. Fahri meminta izin pada Eqbal agar bisa melihat wajah Aisha untuk menguatkan hatinya yang baru saja digoncang dengan kabar yang menyakitkan hati. Tepat saat adzan ashar berkumandang mereka telah sampai di masjid tempat akad akan dilaksanakan. Semua para tamu undangan te-lah sampai di sana dan juga para masyarakat Mesir.
Setelah akad nikah mereka tidak langsung tinggal bersama, 2 hari setelah akad nikah pesta pun digelar. Barulah mereka pergi ke sebuah flat nomor 21 di tepi sungai nil. Mereka berbulan madu di sana, dan di akhir minggu Aisha mem-beri kejutan kepada Fahri bahwa flat itu miliknya. Dan mereka akan menempati flat itu bersama. Tak lama setelah itu Fahri mendapat kejutan dari Maria dan You-sef. Maria dan adiknya itu datang ke rumah Fahri untuk memberikan sebuah kado pernikahan. Namun Maria tampak lebih kurus dan murung. Memang saat Fahri dan Aisha menikah, keluarga Boutros sedang pergi berlibur. Begitu mendengar Fahri telah menjadi milik wanita lain dan tidak lagi tinggal di flat, Maria sangat terpukul.
Kebahagiaan Fahri dan Aisha ternyata tidak bertahan lama karena Fahri harus menjalani hukuman di penjara atas tuduhan pemerkosaan terhadap Noura. Fahri dibawa ke markas polisi Abbasca. Fahri diinterogasi dan dimaki dengan ka-ta-kata kotor. Fahri dituduh memperkosa Noura hingga hamil hampir tiga bulan. Noura teramat luka hatinya saat Fahri memutuskan untuk menikah dengan Aisha. Di persidangan, Noura yang tengah hamil itu memberikan kesaksian bahwa janin yang dikandungannya adalah anak Fahri. Pengacara Fahri tidak dapat berbuat apa-apa, karena ia belum memiliki bukti yang kuat untuk membebaskan kliennya dari segala tuduhan. Fahri pun harus mendekam di penjara selama beberapa minggu dan melewati ramadhan pertamanya di sel bawah tanah. Satu-satunya saksi kunci yang dapat meloloskan Fahri dari fitnah kejam Noura adalah Maria. Marialah yang bersama Noura malam itu yaitu malam yang Noura sebut dalam persidangan sebagai malam di mana Fahri memperkosanya. Maria sedang terkulai lemah tak berdaya. Luka hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan membuatnya jatuh sakit. Dan ia terus mengigau menyebut nama Fahri. Dokter mengatakan sentuhan dan suara Fahri adalah rangsangan supaya Maria cepat sadar, namun Fahri tidak mau melakukannya karena Maria bukanlah istrinya. Atas desakan Aisha, Fahri pun menikahi Maria. Pernikahan itu berlangsung di rumah sakit. Aisha berharap dengan mendengar suara dan merasakan sentuhan tangan Fahri, Maria tersadar da-ri koma panjangnya dan dapat memberi kesaksian di pengadilan tentang sebenar-nya yang terjadi.
Akhirnya Maria dapat membuka matanya, Aisha menceritakan semuanya kepada Maria dan akhirnya Maria bersedia untuk memberikan kesaksian di persi-dangan. Ketika di pengadilan Maria membawa bukti bahwa malam itu Maria sam-pai pagi berada di kamarnya dan sama sekali tidak meninggalkan kamarnya apala-gi masuk ke kamar Fahri, namun naas karena terlalu emosi Maria yang saat itu masih dalam keadaan sakit langsung jatuh pingsan setelah memberi kesaksian dan dilarikan ke rumah sakit. Fahri pun memenangkan pengadilan itu karena Noura mengakui kesalahannya karena telah memfitnah Fahri dan menyengsarakan orang yang ia cintai. Takbir bergemuruh di ruang pengadilan itu dilantunkan oleh semua orang yang membela dan simpati pada Fahri. Seketika Fahri sujud syukur kepada Allah Swt. Aisha memeluk Fahri dengan tangis bahagia tiada terkira. Paman Eq-bal dan Bibi Sarah tidak mampu membendung airmatanya. Syaikh Ahmad dan Ummu Aiman juga sama. Satu persatu orang Indonesia yang ada di dalam ruang-an itu memberi selamat dengan wajah baru.
Noura menyesal atas perbuatan yang dilakukannya. Dengan jiwa be-sar  Fahri memaafkan Noura. Terungkaplah bahwa ayah dari bayi dalam kandung-an Noura adalah Bahadur. Fahri, Aisha, dan Maria mampu menjalani rumah tang-ga mereka dengan baik. Aisha menganggap Maria sebagai adiknya, demikian pula Maria yang menghormati Aisha selayaknya seorang kakak.  Maria terus mengigau dalam komanya, membaca ayat-ayat surat Maryam dan dilanjutkan dengan surat Thaha dan air matanya terus mengalir. Setelah ayat terakhir surat Thaha yang ke-luar dari mulut Maria tersadar dan menceritakan semuanya kepada Fahri. Maria mengatakan bahwa ia mencium bau surga dan melihat ke dalam rombongan yang masuk ke dalamnya. Ketika ia mau masuk beberapa kali malaikat penjaga surga itu tidak mengizinkannya dengan alasan ia bukan termasuk golongan nabi Mu-hammad. Ia menangis menyebut nama Allah dan akhirnya dari salah satu pintu surga keluarlah Maryam. Ia mengatakan bahwa jika ingin masuk surga, ia harus termasuk dalam rombongan nabi Muhammad Saw. Fahri mengerti bahwa Maria adalah wanita yang muslim hatinya tapi Maria belum mengucapkan syahadat se-bagai tanda masuknya ia ke dalam agama Islam. Akhirnya Fahri membantu Maria dengan cara mengambilkan air untuk berwudlu. Dengan sekuat tenaga Fahri membopong Maria yang kurus kering itu menuju kamar mandi. Aisha juga mem-bantu membawakan tiang infus. Dengan tetap dibopong oleh Fahri, Maria diwu-dhui oleh Aisha. Setelah selesai, Maria kembali dibaringkan di atas kasur seperti semula. Lalu dengan suara lirih yang keluar dari relung jiwa ia mengucapkan sya-hadat. Ia tetap tersenyum. Perlahan pandangan matanya redup. Tak lama kemudi-an kedua matanya yang bening itu tertutup rapat. Fahri memegang tangannya dan denyut nadinya telah berhenti. Tidak ada yang menduga jika maut akhirnya me-renggut Maria. Maria menghadap Tuhan dengan menyungging senyum di bibir. Wajahnya bersih seakan diselimuti cahaya. Kata-kata yang tadi diucapkannya de-ngan bibir bergetar itu kembali terngiang di telinga Fahri. Namun Maria sangat beruntung karena sebelum ajal menjemputnya, ia telah menjadi seorang mu’alaf dengan bantuan Fahri dan Aisha.

ANALISIS KRITIK NOVEL AYAT-AYAT CINTA

Pada novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy ini merupa-kan novel bergenre religius. Pada novel ini mengaitkan kehidupan manusia de-ngan aspek-aspek keagamaan. Novel ini menceritakan permasalahan-permasalahan yang ada pada kehidupan manusia, mulai dari gaya hidup bertetangga, pola tingkah pemikiran masyarakat yang beraneka ragam, cinta yang bertepuk sebelah tangan, poligami, pemfitnahan, sampai pada kesetiaan dengan latar sosial-budaya Timur Tengah. Semua dikemas dengan uraian-uraian yang bersifat islami dengan diperkuat oleh dalil-dalil dan hadits-hadits.
Karya sastra adalah salah satu dari media dalam berdakwah. Dengan karya sastra segala permasalahan kehidupan dapat tergambarkan dengan solusi yang dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Inilah yang dilakukan oleh seorang novelis yang juga seorang sarjana Al-Azhar University Cairo. Dengan media novel ia mampu membangun gambaran-gambaran permasalahan masyarakat dengan solusi yang berdasarkan pengetahuan agama. Dalam novel ini, ia menceritakan permasalahan kehidupan dengan latar ala Arab namun diceritakan dengan gaya bahasa Indonesia. Mengutip pernyataan dari Majalah Muslimah edisi Januari 2006 “Penulis novel ini berhasil menggambarkan latar (setting) sosial-budaya Timur Tengah dengan sangat hidup tanpa harus memakai istilah-istilah Arab. Bahasanya yang mengalir, karakterisasi tokoh-tokohnya yang begitu kuat, dan gambaran latarnya yang begitu hidup, membuat kisah dalam novel ini terasa benar-benar terjadi. Ini contoh novel karya penulis muda yang sangat bagus!” Dalam hal ini tokoh-tokoh dibangun dengan karakteristik yang kuat dan sesuai dengan gambaran kehidupan.
Ayat-Ayat Cinta merupakan judul yang mewakili isi dari novel ini. Di da-lam Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang cinta, baik cinta antara manusia dengan Tuhannya, cinta antara manusia dengan manusia lainnya, tak terkecuali cinta antara manusia yang berlawanan jenis. Kata Ayat yang dituliskan secara reduplikasi dalam ilmu morfologi menyatakan jamak, artinya dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan tentang cinta dan permasalahan serta solusi-solusinya. Kenapa judulnya Ayat-Ayat Cinta? Karena di dalam Al-Qur’an, Tuhan telah mengajarkan bagaimana sebuah cinta itu dibangun dengan tanpa merusak kesucian dari sebuah arti cinta tersebut. Cinta itu akan terasa sangat indah, jika dilakukan sesuai dengan pedoman dan petunjuk yang diberikan oleh Allah Swt. Manusia akan mengecap indahnya cinta dari sesama manusia, jika ia juga telah mencintai Allah dengan melakukan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Dan Allah akan menjanjikan surga yang tak ternilai keindahannya bagi mereka yang menjalankan kehidupan sesuai dengan syariatNya.
Fahri, seorang tokoh yang dibangun oleh penulis sebagai tokoh utama dalam novel ini. Seorang santri salaf metropolis dan musafir yang haus ilmu. Memiliki karakter tokoh yang begitu kuat dengan keislamannya dan kokoh pendiriannya serta seseorang yang pekerja keras. Kesabaran dan gaya hidup yang patut dicontoh dari seorang Fahri. Tokoh kedua dalam novel ini adalah Aisha, seorang gadis yang berdarah Jerman, Turki, dan Palestina, namun lahir dan dibesarkan di Jerman. Sifat lembut dan penyayang tergambar dari kecantikan nama Aisha. Seorang tokoh yang begitu setia dan juga sabar menerima segala cobaan berat yang menimpanya dan suaminya. Tokoh ketiga adalah seorang penganut Kristen Koptik yang sangat taat kepada agamanya, namun telah menghafal beberapa surat Al-Qur’an terutama surat Maryam yang menjelaskan tentang riwayat Maryam melahirkan Nabi Isa As., tentang bagaimana cara Nabi Ibrahim memberikan nasihat kepada ayahnya, tentang Allah Swt yang meninggikan Nabi Idris ke tempat yang tinggi, dan tentang Allah Swt. yang tidak beranak. Nama Maria yang bernuansakan wanita Kristen, namun terasa begitu Islami dengan karakter yang dibangun oleh penulis. Dan tokoh-tokoh pendukung lainnya yang penamaannya disesuaikan dengan karakter masing-masing tokoh menjadikan cerita ini menjadi begitu hidup.
Dalam novel ini juga sangat kental dengan penggambaran sosial-budaya seperti pada kutipan (halaman 51, paragraf  6) “Salah satu keindahan hidup di Me-sir adalah penduduknya yang lembut hatinya. Jika sudah tersentuh mereka akan memperlakukan kita seumpama raja. Mereka terkadang keras kepala, tapi jika sudah jinak dan luluh mereka bisa melakukan kebaikan seperti malaikat. Mereka kalau marah meladak-ledak tapi kalau sudah reda benar-benar reda kemarahannya, hilang tanpa bekas. Tak ada dendam di belakang yang diingat sampai tujuh ketu-runan seperti orang Jawa. Mereka mudah menerima kebenaran dari siapa saja.” Orang Amerika digambarkan dengan cara berpakaiannya yang ala Barat dan terbuka, sedangkan orang Mesir digambarkan dengan cara berpakaian yang ala Arab serba tertutup. Dalam penceritaannya juga disinggung tentang budaya Indonesia yang tidak tepat waktu atau ngaret, namun dibuktikan oleh tokoh Fahri bahwa tidak semua orang Indonesia begitu dan tidak semua orang luar Indonesia disiplin dengan waktu. Hal yang menjadi perhatian dalam penggambaran sosial-budaya pada novel ini ialah sistem hukuman di Mesir bagi seseorang yang melakukan suatu kesalahan, maka akan diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi bahkan yang belum terbukti kesalahannya sekalipun. Mereka yang tertuduh bersalah akan disiksa tanpa ampun hingga kebenarannya terungkap. Apalagi bagi seseorang yang berkewarga negaraan yang hukum negaranya lemah, maka hampir tidak ada peluang untuk bisa dibebaskan dari hukuman, bahkan mereka dipaksa untuk mengaku kesalahan yang sebenarnya tidak ia lakukan.
Sosok Aisha, Maria, Nurul, Noura, dan Alicia merupakan penggambaran dari karakter-karakter perempuan yang ada dalam kehidupan nyata. Tentang bagaimana wanita dalam Islam juga sangat diutamakan dalam novel ini dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh para tokoh terutama Alicia yang dijawab dengan baik oleh Fahri dengan berlandaskan dalil-dalil yang ada dan hadits serta pendapat para ulama-ulama terkemuka.

Kenapa dikatakan novel pembangun jiwa? Karena dalam novel ini tercakup bagaimana Islam mengajarkan manusia dalam menghadapi masalah-masalah yang merupakan ujian yang diberikan oleh Allah Swt. Bagaimana seorang Aisha dengan ikhlas dipoligami demi suatu kebenaran. Menjaga kesuciannya hingga cinta yang hakiki itu datang padanya. Bagaimana seorang Fahri yang dengan begitu sabar menghadapi ujian berat yang diberikan oleh Allah Swt kepadanya. Begitu kokohnya ia menggenggam kebenaran demi nama Tuhannya. Dan bagaimana seorang Maria yang disentuh hatinya hingga bisa masuk Islam sebelum ajal menjemput. Semua tergambar dengan baik di dalam Ayat-Ayat Cinta.


*Salah satu tugas kuliah menulis keritik esay

Kritik Ekspresif: Cerpen Peradilan Rakyat karya Putu Wijaya

Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra memfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku pencipta karya sastra. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai ekspresi sastrawan, sebagai curahan perasaan atau luapan perasaan dan pikiran sastrawan, atau sebagai produk imajinasi sastrawan yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran atau perasaanya. Kerena itu, untuk menerapkan pendekatan ini dalam kajian sastra, dibutuhkan sejumlah data yang berhubungan dengan diri sastrawan, seperti kapan dan di mana dia dilahirkan, pendidikan sastrawan, agama, latar belakang sosial budayannya, juga pandanga kelompok sosialnya.
Pada  cerpen pradilan rakyat, yang menunjukkan analisis kritik sastra ekspresif adalah sebagai berikut:

Kutipan cerpen:
Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin dan beku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara.
Putu wijaya, mampu mengekspresikan dengan baik. Negara sebagai wujud teater, suatu pertunjukan sandiwara. Hal ini pula dilatarbelakangi oleh profesi penulis sebagi seorang sastrawan, penulis pula menjabat sebagai Pimpinan Teater Mandiri, Jakarta sejak tahun 1971 hingga sekarang. Kutipan diatas merupakan wujud ekspreasi jiwa mengenai kedudukan posisi bangsa dan negara saat ini bisa berubah. 
Berikutnya pada cutipan cerpen dibawah ini:
Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
“Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya.”
Penulis mampu menekspresikan diri seorang pengacara muda, yang profesional, dan cerdas. Hal tersebut pula didasari, bahwa penulis juga seorang mahasiswa fakultas hukum, penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum UGM 1969.
Selanjutnya pada kutipan cerpen dibawah ini:
Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
Penulis mampu mengkritisi pemerintahan, dan memaparkan pandangannya pada pemerintahan. Wujud dari ekpresi terhadap situasi dan keadaan yang terjadi dimasyarakat, hal ini pula didasari oleh profesi yang penah menjadi wartawaan di berbagai media cetak. Misalnya penulis pernah menjadi wartawan majalah Ekspres (1969), wartawan majalah Tempo (1971-1979) dan Redaktur Pelaksana majalah Zaman (1979-1985)



*Salah satu tugas kuliah menulis keritik esay

Kritik Objektif: Cerpen Peradilan Rakyat karya Putu Wijaya

Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian kepada karya sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai struktur yang otonom dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarangm maupun pembaca. Pendekatan ini juga disebut oleh Welek & Waren (1990) sebagai pendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada unsur intrinsik karya sastra yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri.

Tema yang di ambil dalam cerpen peradilan rakyat adalah Keadilan di Masyarakat. Alur yang digunakan mekamkai alur maju (progesif).

Latar tempat, yaitu latar mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.Pada cerpen, latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:                      
 Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum. Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara dimana tempat ayahnya seorang pengacara senior.

Latar Sosial, yaitu yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.

Penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh atau perwatakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita.

Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.

Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Hal tersebut berdasarkan kutipan:
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.” Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
Dari kutipan diatas, karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.

Sekretaris, perhatian, baik, cantik jelita. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:
Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda. “Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”
Dikemukakan, bahwa sekretaris yang cantik dan dan perhatian. Ia mengatakan bahwa pengacara senior hendak beristirahat,

Sudut pandang (point of view) merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; Contohnya pada kutipan dibawah ini
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung,
…. Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang
Berdasarkan pada kutipan diatas, diketahui penggunaan tokoh “ia” dan subjek lain dengan kata ganti pengacara muda.

Gaya bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Melebih-lebihkan kata sehingga menampilkan unsur-unsur sasta yang indah dan menarik. Itulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas. Dalam cerpen peradilan rakyat di temukan 3 gaya bahasa yaitu Gaya Bahasa Perbandingan, Gaya bahasa pertentangan, dan Gaya bahasa sindiran (Sinisme).

Gaya bahasa perbandingan dalam cerpen peradilan rakyat terdapat 4 bagian yaitu gaya bahas perumpamaan, metafora, depersonikfikasi, dan personifikasi

Gaya bahas perumpamaan, contohnya: penjahat itu licin seperti belut; rakus seperti monyet; seperti kucing dan anjing; seperti singa yang lapar; bagai air dengan minyak. Pada cepen gaya bahasa perumpamaan adalah sebagai berikut:
·         Mereka menyebutku Singa Lapar.
·         Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.

Metafora, contohnya; anak emas, buah bibir, buah tangan, mata keranjang, jinak-jinak merpati, air mata buaya dsb. Pada cerpen metafora, adalah sebagai berikut:
Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.

Depersonikfikasi, gaya bahasa yang mengandaikan manusia atau segala hal yang hidup, bernyawa, sebagai benda-benda mati yang kaku dan beku. Pada cerpen contohnya adalah sebagai berikut:
Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.

Personifikasi, gaya bahasa perbandingan yang mengandaikan benda-benda mati, termasuk gagasan atau konsep-konsep yang abstrak, berperilaku seperti manusia yang menggerakan seluruh tubuhnya. Pada cerpen gaya bahasa personifikasi adalah sebagai berikut:
Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

Gaya bahasa pertentangan dalam cerpen peralidan rakyat yaitu hiperbola, gaya bahasa yang pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberikan penekanan pada suatu pertanyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Pada cerpen contoh gaya bahasa hiperbola adalah sebagai berikut:
·         Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.
·          Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.
·         Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
·         Tapi aku tolak mentah-mentah.
·         Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
·         Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.
·         Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?
·         Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.
·         membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.
·         Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.
·         Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
·         Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.

Gaya bahasa sindiran (Sinisme), merupakan gaya bahasa yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Pada cerpen adalah sebagai berikut:
·         Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang.
Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Cerpen Peradilan Rakyat

PERADILAN RAKYAT
Cerpen Putu Wijaya

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.     

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.           

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung         tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."     
Pengacara muda itu tersenyum.         
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."       

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."       

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."      

Pengacara tua itu meringis.    
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."       
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"      Pengacara tua itu tertawa.     
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.          Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf. 

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."   

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.           

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."          
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."    

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.                   

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.     

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini." 

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.   

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."          

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.       
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.   
"Bagaimana Anda tahu?"       

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."   

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.    
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.       
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain." 
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku." 
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.       
"Jadi langkahku sudah benar?"          
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya. 

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"           
"Tidak! Sama sekali tidak!"   
"Bukan juga karena uang?!"   
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"     
Pengacara muda itu tersenyum.         
"Karena aku akan membelanya."       
"Supaya dia menang?"           

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.      
"Apa jawabanku salah?"        
Orang tua itu menggeleng.     

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."   

"Tapi kamu akan menang."    
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."       

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."      

Pengacara muda itu tertawa kecil.     
"Itu pujian atau peringatan?" 
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."           
"Aku jujur."    
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.           
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"  

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"         
"Mereka tidak mengancam kamu?"   
"Mengacam bagaimana?"       
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"           

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.     
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"   
"Tidak."          
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.  
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"         
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam. 
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"        
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"  
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.   
"Berarti ya!"   
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"   

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.          

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."        

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.       

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."   

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."    
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.          

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.   

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?

Kritik Mimetik: Cerpen Gadis Peminta-minta Karya Toto Sudarto Bachtiar


Dalam buku ”Prinsip-prinsip Kritik Sastra”, menyebutkan bahwa kritik mimetik memandang karya sastra sebagai tiruan, pencerminan, atau penggambaran dunia luar dan kehidupan manusia. Kriteria yang utama dikenakan pada karya sastra adalah ”kebenaran” penggambarannya terhadap objek yang digambarkan atau hendak digambarkan (Pradopo, 2003:192).

Sajak yang akan di kritik adalah sajak “Gadis Peminta-minta” puisi Toto Sudarto Bachtiar.



GADIS PEMINTA-MINTA
Toto Sudarto Bachtiar
Setiap kali bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyumu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi lulang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku.
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, oh kotaku Hidupnya tak lagi punya tanda

Sebelum menjelaskan gambaran kehidupannya, dideskripsikan dahulu setiap lariknya.sebagai berikut:
Larik ke-1: setiap bertemu anak kecil yang membawa kaleng kecil
Larik ke-2: semuanya dijalani dengan senyuman tidak terlalu menghiraukan hal sedih karena kesedihan sudah  jadi kebiasaan.
Larik ke-3: melihat ke atas pada siang hari
Larik ke-4: seperti tidak ada kehidupan
Larik ke-5: karena terlalu simpati jadi merasa ingin mengalami rasa yang sama
Larik ke-6: anak kecil itu pulangnya ke bawah jembatan
Larik ke-7: hidupnya penuh dengan impian
Larik ke- 8: kebahagiaan hanya mimpi belaka
Larik ke- 9: kesulitan hidupnya berat  tidak sebanding dengan usianya
Larik ke- 10:mainnya anak kecil itu di sekitar selokan
Larik ke-11: hatinya bersih
Larik ke-12: menerima kesusahan orang lain
Larik ke-13:kalau anak kecil peminta-minta telah tiada
Larik ke-14: kehidupan yang sulit tidak ada yang merasakan
Larik ke-15: kehidupan kotanya terlepas dari pemandangan peminta-minta

Dari ke-15 larik di atas, menggambarkan adanya kehidupan seorang anak kecil yang pekerjaannya meminta-minta, tempat mainnya di sekitar selokan, tempat tinggalnya di kolong jembatan, kehidupannya penuh kesusahan dan kebahagiaan yang diharapkan hanya sebuah mimpi.

Hal-hal di atas benar-benar menggambarkan kehidupan di sebuah kota besar yang dipenuhi dengan banyaknya anak kecil meminta-minta khususnya di Indonesia apalagi di kota besar seperti Jakarta. Jadi dari sekian banyak penggambaran penyair ingin menggambarkan keadaaan indonesia khususnya di kota besar. Dari segi mimetiknya, sajak ini bagus karena diangkat dari suatu kenyataan, dimana banyaknya anak kecil peminta-minta di jalanan kota. Jadi pilihan kata yang digunakan dalam sajak di atas menggambarkan dengan jelas sebuah kehidupan manusia.


*Salah satu tugas kuliah menulis keritik esay